Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan

Peta Lokasi Penangkapan Ikan Tuna

Peta Lokasi Penangkapan Ikan Cakalang

Peta Lokasi Penangkapan Ikan Lemuru

Nusa Dua (16/02). Salah satu hasil dari side event dalam Pertemuan Tahunan International Monetary Fund (IMF)-World Bank (WB) yang diselenggarakan pada tahun lalu adalah Mars Coral Spiders atau Laba-laba MARRS (Mars Accelerated Coral Reef Rehabilitation System). Laba – laba MARRS adalah struktur terumbu karang buatan yang merupakan bagian dalam Nusa Dua Coral Reef Garden (NDCRG) dan telah terpasang pada kedalaman 7 – 10 meter di daerah reef slope di Nusa Dua. Dengan transplantasi buatan ini memungkinkan anakan karang dapat ditempel untuk tujuan mengisi celah antara karang alami yang tersisa. Adapun genus karang yang ditransplantasi pada struktur tersebut ialah Scleractinia, diantaranya: Acropora, Pocillopora, Stylophora, dan Galaxea.

Pemantauan secara berkala menjadi agenda yang tak dapat dilewatkan. Diskusi terkait kondisi terkini hasil dari pemantauan tersebut telah dilakukan pada Sabtu (16/02) lalu bertempat di ruang rapat Command Center, kawasan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Nusa Dua. Dr. Eghbert Elvan Ampou (Ketua Kelompok Peneliti BROL) memaparkan hasil pemantauan terkait dengan geomorfologi habitat, kondisi terkini, dan rekomendasi kegiatan kedepan. 

Diskusi dipimpin langsung Dr. Ir. Safri Burhanudin, DEA , Deputi IV Bidang koordinasi Sumber Daya Manusia, IPTEK, dan Budaya Maritim, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, dengan hasil pemantauan:

1. Terdapat sembilan jenis geomoforlogi habitat yang tergolong tipe terumbu tepi (fringing reef) dengan tipologi rataan terumbu (reef flat) dan terumbu depan (fore reef). 

Geomorfologi habitat

2. Acropora sp merupakan jenis karang paling banyak yang terdapat di reef spider.

Laba-laba MARRS

3. Ada 3 kategori signifikan yang mempengaruhi reef spider:

          a. RESISTAN: Karang yang mampu beradaptasi terhadap pengaruh lingkungan disekitarnya.

          b. KOMPETISI: Karang yang diinvasi oleh organisme lainnya sehingga mempengaruhi proses pertumbuhan.

          c. PREDATOR: Karang yang dimangsa oleh pemangsa lainnya.

                                                                                                                                                                                                                                                                                                            (Andréfouët,  2014: Ampou, 2018). 

 

“Ada beberapa catatan penting sebagai rekomendasi dari kegiatan pemantauan yang telah dilakukan, diantaranya melakukan pengambilan dan pengujian sampel kualitas air laut, minimal mewakili musim dalam setahun. Hal ini diperlukan untuk mengetahui baku mutu kualitas air laut di sekitar lokasi terumbu buatan, juga terkait dengan data dukung lainnya seperti kajian ilmiah pertumbuhan, kesehatan, penyakit, pemodelan arus laut, dan parameter lainnya”, jelas Dr. Ampou. 

“Hasil pemantauan ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi atau acuan pada kegiatan pemantauan selanjutnya. Selain itu, MARRS yang masuk dalam rencana program Taman Mini Terumbu Karang Indonesia ini, semoga dapat terwujud dan dapat bermanfaat bukan hanya di sektor pariwisata, namun kegiatan riset dari pemangku kepentingan lainnya. Ada wacana juga untuk melakukan penenggelaman kapal perang bekas sebagai terumbu buatan di beberapa wilayah di Indonesia termasuk di Nusa Dua, Bali, namun perlu dilakukan kajian lebih lanjut dan terintegrasi terkait hal tersebut”, tambahnya. 

 

baca juga: http://bpol.litbang.kkp.go.id/27-berita-penelitian/434-taman-mini-terumbu-karang-indonesia-berawal-di-nusa-dua

 

Agenda Kegiatan

Jul
23

23.07.2019 - 31.01.2020

Dec
16

16.12.2019 - 31.01.2020

Dec
18

18.12.2019 - 24.01.2020

Dec
18

18.12.2019 - 24.01.2020

Dec
18

18.12.2019 - 24.01.2020

Penghargaan Pegawai

Twitter @kkpgoid

Frequently Asked Questions

Layanan Publik BPOL

Kegiatan Penelitian BPOL

Publikasi BPOL

Perpustakaan Online BPOL

Stop Korupsi

Whistleblowing System

GOL KPK

LAPOR