Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan

Peta Lokasi Penangkapan Ikan Tuna

Peta Lokasi Penangkapan Ikan Cakalang

Peta Lokasi Penangkapan Ikan Lemuru

Jembrana (19/10). Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), menggelar Webinar Internasional dengan tema "Ocean Observation and Modelling to Support Marine Resources Management”, Rabu (14/10), di Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) Bali. Tujuannya adalah untuk berdiskusi serta menggali secara mendalam mengenai bagaimana observasi laut dan modelling dalam mendukung pengelolaan sumber daya laut.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan jumlah pulau lebih dari 17.500 buah, laut yang sangat luas mencapai 70% luas wilayahnya, dan garis pantai kedua terpanjang di dunia, memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar. Namun demikian, datang ancaman terhadap sumberdaya tersebut dari kegiatan Illegal, Unreported and Unregulated Fishing (IUUF), perubahan iklim, dan proses antropisasi yang menyebabkan degradasi ekosistem laut. IUUF merugikan Pemerintah Indonesia dan nelayan sekitar dua hingga tiga miliar dolar per tahun, dan menimbulkan masalah lingkungan termasuk polusi, erosi pantai, dan kerusakan hutan. Untuk itu perlu upaya dalam mengatasi masalah ini dan pendekatan untuk mengamankan sumber daya jangka panjang yang berkelanjutan.

“Memang dalam ilmu pengetahuan, kita akan mulai dari persoalan pemahaman. Jadi manusia diberikan kapasitas intelektual yang luar biasa. Sehingga dengan kapasitas intelektual yang dimiliki, maka dia akan mulai belajar fenomena alam yang ada di sekitarnya, karakteristiknya, dan sebagainya. Kemudian cara memahaminya pun mengalami perkembangan, tidak hanya melalui visual dengan panca indera yang kita miliki, tapi juga dengan alat bantu. Setelah memahami fenomena tersebut, maka kita mulai memiliki bayangan, fenomena alam ini mana yang akan kita manfaatkan untuk kesejahteraan manusia dan mana fenomena alam yang  berbahaya yang harus kita hindari. Kita lakukan persiapan-persiapan, sehingga manusia tidak takut menghadapi bencana terkait dengan alam,” ujar Kepala BRSDM Sjarief Widjaja.

Selanjutnya ia menjelaskan pentingnya observasi. Tahapannya, dimulai dari mengetahui, lalu memperdalam dan mengembangkan sebuah metodologi untuk observasi, serta membuat modelling. Menurutnya, apa yang terjadi pada fenomena alam disederhanakan, dibuat sebuah miniature dan prototype untuk memahami salah satu karakteristik yang diangkat. 

“Kita bisa membuat permodelan di alam. Misalnya ocean characteristic atau ocean dynamic. Kalau bicara hydrodynamic model, misalkan untuk mengetahui tentang gelombang saja, maka kita akan membuat modelling bagaimana mengetahui karakteristik gelombang dan apa dampaknya terhadap sebuah kehidupan manusia yang tinggal di sekitar pesisir pantai. Demikian juga dengan hal-hal lain, misalnya arus dan sebagainya,” tuturnya.

“Kemudian, kita akan meningkat yang lebih kompleks lagi, yang terjadi antara arus, gelombang, angin, dan sebagainya. Itu akan membuat interaksi yang selanjutnya akan membuat suatu dynamic model yang lebih kompleks. Karena lebih kompleks, maka dibutuhkan tools, modelling dari simulation, computer modelling, dan sebagainya. Itu adalah alatnya. Setelah kita tahu semuanya, baru kita membuat marine resources management. Key word-nya adalah itu. Marine resources management itu selalu berbasis kepada hasil sebuah observasi. Baru kita tahu bagaimana mengelola lingkungan laut, dan sebagainya,” lanjut Sjarief. 

Karena itu, ia menyambut baik forum-forum ilmiah seperti yang diselenggarakan pada kesempatan ini dan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan BROL bersama para penelitinya. Ia memberikan arahan, setelah mengetahui modelling yang ditetapkan agar secepatnya menyelesaikan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Ia mencontohkan terkait tsunami, perlu dilakukan upaya prefentif dan marine management untuk menyelamatkan masyarakat pesisir. Karena itu, ia memberikan arahan agar hasil riset KKP tidak terlalu lama dalam bentuk level of know how (pengetahuan), tetapi harus segera ditransformasikan menjadi sebuah plan of action, untuk melakukan suatu tindakan prefentif terhadap bencana maupun pemanfaatannya di masyarakat.

“Nanti Pusat Riset Kelautan KKP akan mengeksplor dan mengelaborasi lebih lanjut. Intinya KKP berharap semua hasil diskusi kita ini nanti akan berujung kepada sebuah rekomendasi berupa plan of action, yang bisa diikuti oleh masyarakat, stakeholder, dan kita akan jadi sosok research institute, yang jadi panutan bagi masyarakat. Intinya kesana, jadi tidak berhenti sampai know how, tetapi sampai kepada pemanfaatan bagi masyarakat,” tutup Sjarief.

Sebagai informasi, webinar ini dihadiri secara online oleh peserta dari kalangan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, LSM/NGO, dan sebagainya. Bertindak sebagai narasumber adalah Dr. Zexun Wei dari First Institute of Oceanography (FIO) dan Kementerian Sumberdaya Alam Republik Rakyat Tiongkok; serta narasumber dari peneliti KKP, yaitu Dr. Asmi Marintan Napitu dan Dr. Dwiyoga Nugroho.

Kesimpulan hasil diskusi, antara lain: 1) OMIS (Observation and Modelling Information System) atau SIDIK (Sistem Prediksi Kelautan) merupakan sistem observasi laut yang penting untuk menjawab permasalahan yang terjadi di laut Indonesia, seperti IUU fishing, perubahan iklim, dampak antropogenik; 2) Ocean model dapat mendukung para pemangku kepentingan dalam pengelolaan pesisir, misalnya sampah laut dan pemantauan kenaikan permukaan laut; 3) pengembangan OMIS dilakukan dengan mencari potensi kolaborasi dalam observasi dan pemodelan laut, penginderaan jauh samudra dan dinamika pesisir; 4) permasalahan laut Indonesia sangat kompleks dan berimplikasi pada perikanan dan cuaca ekstrim, sehingga  perlu antisipasi dampaknya di masa mendatang; 5) permodelan dalam mendukung observasi memiliki keterbatasan, sehingga perlu strategi terbaik dengan menggunakan model dan observasi dengan perbandingan konstan; serta 6) perlunya dikembangkan observasi laut yang didorong secara nasional dan internasional, misalnya melalui kolaborasi Tiongkok (FIO) dan Indonesia (KKP) telah menghasilkan banyak bukti ilmiah aliran lintas Laut China Selatan (SCS), yang merupakan bagian Samudera Pasifik hingga Samudera Hindia.

HUMAS BRSDM

 

SIARAN PERS 

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN 

 

Nomor : SP.106/SJ.4/2020

 

sumber

Agenda Kegiatan

No events found
No events found

Penghargaan Pegawai

Twitter @kkpgoid

Frequently Asked Questions

Layanan Publik BPOL

Kegiatan Penelitian BPOL

Publikasi BPOL

Perpustakaan Online BPOL

Stop Korupsi

Whistleblowing System

GOL KPK

LAPOR