Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan

Peta Lokasi Penangkapan Ikan Tuna

Peta Lokasi Penangkapan Ikan Cakalang

Peta Lokasi Penangkapan Ikan Lemuru

Jakarta (22/05). Pembahasan Indonesia Blue Carbon Strategy Framework (IBCSF) telah diselenggarakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada Senin, (20/05) di Ruang Rapat Proklamasi, Hotel Double Tree by Hilton, Jakarta. Pertemuan yang merupakan koordinasi antar Kementerian ini juga mengundang beragam lembaga lain seperti Conservation International (CI-Indonesia), World Resources Institute (WRI-Indonesia), World Wild Fund (WWF-Indonesia), The Nature Conservancy (TNC), Australian Embassy, Center for International Forestry Research (CIFOR), dan Institut Pertanian Bogor. Dr. Frida Sidik, Nuryani Widagti, M.Si., dan Rochma Widia Lestari, M.Si., turut hadir mewakili Balai Riset dan Observasi Laut (BROL).

Agenda kegiatan diawali dengan sambutan pembuka dan paparan oleh Dr. Sri Yanti, Direktur Kelautan dan Perikanan Bappenas, mengenai overview acara. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa acara ini merupakan pertemuan ke-5 antar kementerian (multi-agency meeting) bertujuan untuk menegaskan kembali komitmen tiap lembaga dalam mengangkat blue carbon sebagai fokus aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim nasional. Secara spesifik, beliau juga menggarisbawahi tujuan yang ingin dicapai dalam pertemuan ini, yaitu:

  1. Membahas tindak lanjut pembentukan Sekretariat Nasional IBCSF yang berfungsi sebagai pusat informasi dan saran berbagi data/informasi serta menjadi think-tank perumusan untuk kebijakan terkait;
  2. Penyusunan rencana aksi IBCSF; serta
  3. Stock-taking dan scoping kegiatan Karbon Biru.

Beliau juga mengingatkan kembali akan kesepakatan pada pertemuan sebelumnya terkait pentingnya membentuk Sekretariat Bersama Karbon Biru yang berperan sebagai pusat informasi dan sarana berbagi data atau informasi serta forum diskusi  guna menghasilkan perumusan masukan untuk kebijakan terkait karbon biru. 

Melalui paparannya, beliau menyampaikan bahwa dalam penyusunan rencana aksi IBCSF diperlukan peran aktif seluruh sektor terkait dengan program karbon biru agar terwujud dalam laporan pada Sustainable Development Goals (SDGs) Annual Report. Dalam scoping kegiatan, perlu dilakukan updating kondisi sasaran utama dalam aplikasi karbon biru, yaitu kondisi existing hutan mangrove dan padang lamun. 

Selain Dr. Sri Yanti, terdapat narasumber lain yang memaparkan tindak lanjut IBCSF sesuai dengan peran masing-masing kementerian dan lembaga, yaitu:

  1. Direktur Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Monitoring Pelaporan dan Verifikasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Joko Prihatno, yang memaparkan mengenai Blue Carbon dan Nationally Determined Contribution (NDC);
  2. Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), diwakili oleh Kepala Seksi Adaptasi Perubahan Iklim, Fegi Nurhabni, S.T, M.T., M.Sc, menyampaikan Karbon Biru (Blue Carbon) dalam Perspektif Kelautan dan Perikanan; serta
  3. Asisten Deputi Pendayagunaan IPTEK Kemaritiman, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Dr. Nani Hendiarti, membahas tentang Incorporating The Ocean in Nationally Determined Contribution (NDC).

Pada paparan KKP disampaikan upaya yang telah dilakukan dalam mendukung inisiatif blue carbon yaitu dengan mencanangkan beberapa program, seperti restoring conditions for mangrove settlement (struktur hybrid); Gerakan Cinta Laut (Gita Laut); Jambore Pesisir dan Sekolah Pantai Indonesia; serta melakukan penelitian blue carbon. Riset blue carbon di KKP dilakukan oleh para peneliti di Blue Carbon Center Pusat Riset Kelautan dan di Balai Riset dan Observasi Laut, Perancak, Bali.

“Agenda penting ini selain sebagai ajang rembuk bagi peneliti terkait, juga menjadi wadah untuk brainstorming bagi penelitian blue carbon berikutnya. Ada beberapa masukan yang disampaikan oleh peserta pada sesi diskusi dalam acara ini, seperti, blue carbon merupakan kepentingan Indonesia dan NDC Blue Carbon kedepannya disarankan agar tidak hanya berkontribusi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca saja, namun juga climate resilience, serta perlu adanya peraturan presiden mengenai blue carbon, sehingga dapat menguatkan ruang gerak kementerian atau lembaga yang terlibat”, ungkap Dr. Frida Sidik, Peneliti BROL. 

 

Agenda Kegiatan

Jul
23

23.07.2019 - 31.01.2020

Dec
16

16.12.2019 - 31.01.2020

Dec
18

18.12.2019 - 24.01.2020

Dec
18

18.12.2019 - 24.01.2020

Dec
18

18.12.2019 - 24.01.2020

Penghargaan Pegawai

Twitter @kkpgoid

Frequently Asked Questions

Layanan Publik BPOL

Kegiatan Penelitian BPOL

Publikasi BPOL

Perpustakaan Online BPOL

Stop Korupsi

Whistleblowing System

GOL KPK

LAPOR