Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan

Peta Lokasi Penangkapan Ikan Tuna

Peta Lokasi Penangkapan Ikan Cakalang

Peta Lokasi Penangkapan Ikan Lemuru

Denpasar (22/04). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah di Laut telah menimbang bahwa sampah di laut menyebabkan terjadinya pencemaran dan kerusakan ekosistem perairan. Pencemaran sampah plastik di laut mengakibatkan adanya kandungan plastik berukuran mikro pada biota dan sumber daya laut di perairan Indonesia. Ini tentu sangat membahayakan kesehatan manusia, terlebih sampah plastik merupakan komponen yang paling sulit diurai oleh proses alam. Menindaklanjuti hal tersebut, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menangani sampah plastik di laut sebesar 70% (tujuh puluh persen) sampai dengan tahun 2025 dan memerlukan langkah-langkah percepatan yang komprehensif dan terpadu. 

Di lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), penggunaan sampah plastik satu kali pakai terutama kemasan botol minuman sudah dilarang dan dikenakan denda sebesar Rp 500.000 bagi pelanggar. “Presiden sudah memerintahkan pengurangan sampah plastik di laut, dan sesuai dengan seluruh kampanye kita, maka salah satunya adalah mengurangi pemakaian sampah plastik satu kali pakai. Awal yang bagus ialah mengurangi dari diri kita dulu,” ungkap Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan, dalam salah satu pertemuan bersama dengan Anggota DPR RI pada 12 Maret 2019 lalu. Imbauan ini tentu berlaku baik untuk semua kalangan. 

Pada lingkup pemerintah daerah, Provinsi Bali melalui Peraturan Walikota Denpasar Nomor 36 Tahun 2018 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik dan Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai, telah ikut andil menyokong langkah yang tengah diupayakan. 

Senada dengan hal itu, guna mendukung dan menciptakan peran aktif penanganan terhadap sampah plastik, Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) kembali menggelar 3 (tiga) agenda lestari pada 22 hingga 23 April 2019 dalam Peringatan Hari Bumi Tahun 2019. Acara yang menggaungkan tema “Bumi Asyik Tanpa Sampah Plastik!” ini melibatkan ratusan peserta yang terdiri dari Generasi Muda, Perguruan Tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat, Non Governmental Organization, Swasta, Media, Pemerintah Daerah Kota Denpasar & Provinsi Bali, Pemerintah Pusat dalam Satuan Kerja KKP, dan yang tak kalah penting adalah Nelayan Kota Denpasar. 

Rangkaian agenda lestari pada hari pertama diawali dengan Aksi Lestari berupa Beach & Mangrove Clean Up, Vlog Competition, dilanjutkan dengan Launching dan Sosialisasi Aplikasi Laut Nusantara phase 2, serta Kelas Lestari berupa Pengolahan Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Minyak, bertempat di Dream Isand Mertasari Beach, Denpasar. Acara puncak pada hari kedua akan diisi dengan Peluncuran Produk Riset & Pubikasi BROL, berupa Otomatisasi Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (PPDPI); Prototipe Sistem Manajemen Laboratorium Kualitas Perairan (SIMANTAP); Album PPDPI Tahun 2018; Laboratorium Riset Kelautan Dalam Angka; serta, Panduan Identifikasi Mangrove Perancak, dan Talkshow Lestari “Bumi Asyik Tanpa Sampah Plastik!” yang menghadirkan 3 (tiga) narasumber lintas sektor, bertempat di Kampus Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar. 

Kepala BROL, Dr. I Nyoman Radiarta, M.Sc., menyatakan bahwa upaya menjaga kelestarian bumi dari ancaman sampah plastik menjadi tanggung jawab bersama seluruh manusia. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk hal tersebut, salah satunya dengan riset dan pengembangan. Melalui riset, manusia mampu menjabarkan wawasan ilmiah sebagai landasan untuk menciptakan kontribusi bagi keberlangsungan kehidupan di bumi.

“Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) yang memiliki produk-produk hasil riset unggulan melalui landasan Pusat Unggulan IPTEK (PUI) - Sistem Prediksi Kelautan, dan Laboratorium Riset Kelautan yang terdiri dari Laboratorium Penginderaan Jauh Kelautan, Laboratorium Observasi dan Pemodelan Laut, Laboratorium Kualitas Perairan, Laboratorium Alam, dan Bali Radar Ground Receiving Station (BARATA), dapat menjadi sarana dalam melakukan aksi dan memberikan kontribusi dalam menjaga keseimbangan ekosistem di bumi, sehingga menjamin keberlanjutan sumber daya kelautan dan perikanan. Melalui rangkaian agenda lestari tersebut, diharapkan dapat memberikan stimulasi kepada masyarakat untuk mulai memberikan kontribusinya dalam menjaga lingkungan sesuai dengan tugas dan peran masing-masing, dimulai dari hal sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mengolah sampah plastik menjadi barang multiguna. Tak dapat dipungkiri, bahwa satu kontribusi kecil saja yang dilakukan secara berkelanjutan dapat memberikan dampak yang begitu berarti bagi bumi. Bumi untuk kita bersama, mari berbagi untuk bumi. Tetap satukan aksi untuk bumi lestari, karena bumi asyik tanpa sampah plastik,” tambahnya. 


Penyelenggaraan acara ini merupakan kerja sama antara BROL dengan PT XL Axiata, Tbk., didukung oleh Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Denpasar, Pascasarjana Universitas Udayana, CReSOS Udayana University, ecoBali Recycling, WWF Indonesia, dan Go Plastik!.

Informasi lebih lanjut:

Sdr. Afriza Aziz, S.Kel

+62 852-9274-1955 (Whatsapp Chat Only)

Pengelola Layanan Kehumasan BROL

Agenda Kegiatan

May
22

22.05.2019 - 24.05.2019

Penghargaan Pegawai

Twitter @kkpgoid

Frequently Asked Questions

Layanan Publik BPOL

Kegiatan Penelitian BPOL

Publikasi BPOL

Perpustakaan Online BPOL

Stop Korupsi

Whistleblowing System

INDESO Project

SEACORM